Announcement

1. Please comment if you read any fanfiction or fiction here..
Mohon komentarnya bila Anda membaca fanfiction atau cerita fiction disini..

2. Please don’t share any fanfiction and fiction here in another place (blog, fb, forum, etc).. if you do that, it will be a plagiarism..
Mohon jangan mem-post ulang fanfiction dan cerita fiction dari blog ini ke tempat lain (blog, facebook pribadi atau forum).. kalau Anda melakukannya, tindakan tersebut sama dengan plagiat..
Ps : Kalau ada yg masih berniat plagiat, go away, bitches. I wish you in afterlife, you will trapped in the hell and never will be go reincarnation again. >:[ no one will save you, bitches..

3. I do share my fanfiction only at :
– seenakwon.wordpress.com (only in this blog!!)
if you look any my fanfiction in another place, please tell me.. thank you.. *bow*

Welcome to my blog.. My Imaginary Land..
read, imagine, and comment please.. ^^
thank you..

[FANFICTION] Man In Love

Title : Man In Love
Cast(s) : Kim Sunggyu, Nam Woohyun
Rating : PG13 – PG15
Genre : fluff and romance in a twisted ways
Language : in bahasa, because my english still in ‘merangkak’ ways. You know what I mean orz
Warning : – I played a lot with words here, hope it’ll turn out as good as I want it to be(?) OTL OTL OTL
– too much description and monolog. This is not a conversation type story but a read and feel type story.
Disclaim : own nothing, only this storyline.        

“Time goes so fast and my heart grows impatient
I imagine you next to me and film a movie of my own
When a man’s in love, he wants to stay by your side
There’s always so much he wants to do for you
When fallen in love, I want to give everything in my life to you
With just one expectation, your heart
I can’t escape because I’m in too deep
The letters in my book are dancing as they form your name
As if you’re the main character of the movie,
as if you’re the moon in the sky,
I keep seeing you I draw you out every day,
my heart will rest only when you come into my arms
I’ll be your resting place that will never cool down
Look carefully – if you feel this, that means he’s fallen for you
If someone gives you a sign like I am right now, then please notice it”
— Man In Love – INFINITE        

Kim Sunggyu. Dia adalah seorang pria yang tengah jatuh cinta. Dan bila ia jatuh cinta ia tidak akan peduli akan dunia. Dunia boleh membencinya, mencoba menjatuhkannya, tapi dunia tidak akan bisa menyakitinya. Tidak apabila ia tetap berada bersama dengan orang yang dicintainya.

Nam Woohyun. Dia juga adalah seorang pria yang tengah jatuh cinta. Dan ketika jatuh cinta, ia akan melakukan hal-hal yang termasuk memalukan atau bodoh. Dunia mungkin akan menertawakan, tapi ia tidak peduli. Yang dipedulikannya adalah orang yang dicintainya itu selalu tersenyum atau tertawa.  

*  

Sunggyu tahu bahwa ia mencintai seorang idiot. Seorang idiot yang mungkin selalu sibuk dan sering meninggalkannya sendirian, tapi Sunggyu tahu bahwa orang yang dicintainya itu selalu memperhatikannya dengan caranya tersendiri. Dan Sunggyu pun tahu bahwa apabila bukan dia yang menginisiatif hal-hal yang romantis (menurut dirinya) maka orang yang dicintainya itu tidak akan melakukan apapun. Well, mungkin memasakkan sesuatu saat sarapan untuknya memang termasuk hal yang romantis. Tapi Sunggyu membutuhkan hal romantis lainnya. Dan ia memutuskan untuk melakukannya sendiri. Ia akan menciptakan suasana romantis itu sendiri.

Ia mengetukkan jari telunjuk tangan kanannya ke bibirnya saat berpikir keras mengenai hal romantis apa yang akan ia lakukan. Ia memikirkan sebuah acara. Mungkin makan malam? Bagaimana kalau di atas sebuah gedung? Ketika mereka bisa melihat langit malam, bintang-bintang, dan bulan? Perlahan Sunggyu mulai tersenyum. Ia bisa membayangkan hal yang akan dipersiapkannya itu.

Ia bergegas mengambil jaketnya dan pergi ke luar untuk membeli barang-barang yang dipersiapkannya. Mungkin ia juga bisa meminta ijin pemilik apartment untuk menggunakan atap bangunan apartmentnya itu untuk mewujudkan suasana romantisnya itu. Dan Sunggyu dengan senyuman masih terkembang di bibirnya mulai berjalan pergi, menyusuri jalanan dengan senyuman dan bayangan dalam imajinya yang ia tahu akan ia wujudkan dengan segera.  

*    

Woohyun tahu bahwa ia adalah seorang idiot. Ia mungkin selalu sibuk dan hampir tidak ada waktu untuk melakukan hal yang romantis. Tapi ia selalu berusaha yang terbaik untuk orang yang dicintainya. Ia akan melakukan apapun, bahkan mati ataupun membunuh. Tapi tentu saja ia tidak akan mengatakannya pada orang yang dicintainya itu. Baginya, Sunggyu adalah hartanya yang paling berharga. Tak ternilai. Laki-laki itu adalah hatinya, hidupnya, jiwanya.  

Ia tahu bahwa ia tidak terlalu sering melakukan hal-hal romantis pada Sunggyu. Tapi ia tahu bahwa laki-laki itu menyadari perasaannya. Bahwa ia, Nam Woohyun, memiliki cara tersendiri untuk memperlihatkan perhatian dan perasaannya. Ia selalu memiliki sebuah mata untuk memperhatikan Sunggyu. Dan ia berharap hal itu cukup untuk Sunggyu.  

Tapi Woohyun juga mengetahui bahwa walaupun Sunggyu tidak pernah mengucapkannya secara keras-keras, laki-laki itu selalu menyukai hal romantis. Dan kali ini, ia akan memberikannya pada Sunggyu.  

Woohyun berpikir keras dan melihat sekelilingnya. Ia sedang dalam jam istirahat siangnya dan dalam perjalanan kembali menuju kantornya ketika ia melihat sebuah rumah. Tepatnya sebuah penitipan anak-anak, dimana orangtua-orangtua yang sibuk berkerja menitipkan anak-anak mereka yang masih kecil atau dalam tingkat sekolah yang rendah sehingga mereka bersekolah hanya sampai siang dan untuk menunggu orangtua mereka, mereka dititipkan disana.  

Ia tahu bahwa pakaiannya termasuk berlebihan ketika ia berjalan menuju kesana. Ia sedang dalam pakaian kantornya, lengkap dengan jas dan dasi tapi disanalah ia sekarang. Ia tahu bahwa di tempat penitipan anak pasti ada sebuah piano. Ia juga memiliki sebuah tapi dalam keadaan rusak dan tergeletak di dalam gudang basement gedung apartmentnya. Mungkin selama ia mengirim piano rusaknya itu untuk diperbaiki, ia bisa berlatih bermain piano di tempat tersebut.  

Mungkin hal itu bukan hal teromantis yang bisa dilakukannya. Tapi Woohyun akan melakukannya dengan caranya sendiri. Bagaimana kalau ia memainkan sebuah lagu kesukaan Sunggyu? Dan lalu mungkin mendeklarasikan perasaannya cintanya lagi pada laki-laki itu? Atau setelah memainkan lagu kesukaan Sunggyu, ia akan berlutut satu kaki di hadapan laki-laki itu, meminta tangannya untuk menikah dengannya. Agar mereka bisa bersama selamanya.  

Dan dengan pemikiran itu, Woohyun masuk ke tempat penitipan anak tersebut dengan sebuah senyuman lebar menghiasi wajahnya.  

*    

Sunggyu kembali menuju gedung apartmentnya dengan membawa sebuah kotak besar berisi barang-barang yang dibelinya untuk menghias atap gedung apartmentnya itu. Ia berjalan dengan memperhatikan sekelilingnya. Melihat banyaknya orang-orang yang berjalan di sekelilingnya dengan senyuman terulas di wajah mereka. Dan Sunggyu tahu alasan kenapa senyuman itu berada disana. Tidak hanya dirinya yang sedang jatuh cinta.  

Walau mungkin beberapa orang terlihat seperti gila di dalam cinta (seorang laki-laki muda yang tampak seperti seorang mahasiswa tampak tertawa dan tersenyum-senyum sendiri sambil tak pernah melepaskan tatapannya pada layar ponselnya dan tampak sedang saling mengirim pesan dengan seseorang). Well, jatuh cinta memang bisa membuat orang-orang tampak seperti kehilangan akal sehat mereka.  

Sunggyu tersenyum perlahan, ia menatap kotak yang berada di dalam pelukannya itu. Seberapa berhasil ia akan membuat orang yang dicintainya itu tersenyum dan tertawa nantinya?  

*    

Woohyun jelas melupakan satu hal. Ia sudah lama sekali tidak bermain piano. Dan hal itu membuat ia hanya berhasil membuat suara-suara sumbang atau setengah sumbang dengan piano di tempat penitipan anak tersebut. Ia bisa merasakan pipinya sedikit memanas karena sedikit malu karena penjaga penitipan anak tersebut tampak tidak menyetujui permainannya dan bahkan anak-anak kecil yang berada disana juga memukulinya dengan kepalan-kepalan tangan kecil mereka karena permainan sumbangnya itu.  

Tapi Woohyun sama sekali tidak akan menyerah, ia bahkan meminta untuk bisa tetap berlatih disana walaupun tempat tersebut akan tutup apabila anak-anak disana telah pulang dijemput oleh orangtua masing-masing. Awalnya ia sama sekali tidak mendapatkan ijin untuk tetap tinggal, tapi karena ia terus memohon dan menjelaskan bahwa ia memerlukan latihan untuk permainan pianonya untuk melamar orang yang dicintainya, setidaknya mungkin Woohyun bisa meluluhkan hati penjaga penitipan anak tersebut.  

Ia diizinkan untuk tetap tinggal dan berlatih permainan pianonya disana. Dan Woohyun sama sekali tidak bisa lebih gembira lagi karenanya. Ia tersenyum perlahan dan memikirkan bagaimana reaksi orang yang dicintainya itu nantinya. Akankah dia tersenyum dan memeluk dirinya nanti?  

*    

Sunggyu menghabiskan waktu beberapa hari berikutnya untuk menghias atap gedung apartmentnya dengan berbagai hal yang di dalam benaknya akan membuat suasana romantis terasa disana bahkan ketika seseorang hanya melangkahkan satu kakinya ke lantai atap disana.  

Ia juga menyulap meja piknik kebun yang dibelinya dari toko barang bekas menjadi kursi piknik yang tampak baru lagi. Sunggyu juga menambal lubang di tengah meja piknik itu yang biasanya menjadi tempat payung besar berwarna-warni untuk menaungi siapapun yang duduk disana dan menjadikannya hanya sebuah meja piknik kayu bundar dan tampak mengkilat seperti baru karena dipernis kembali.  

Laki-laki itu berencana untuk meletakkan makan malam dan juga beberapa kotak hadiah di atas meja itu nanti. Sunggyu melihat sekelilingnya dan tersenyum puas. Ia telah selesai dan malam hari nanti ia akan kembali untuk memasang beberapa lampu yang tertinggal, dan setelah itu ia akan mengirim pesan untuk orang yang dicintainya. Besok, ia akan bisa mewujudkan suasana romantis itu untuk dirinya dan orang yang dicintainya.  

*    

Woohyun bernyanyi pelan seiring dengan permainan pianonya, ia bernyanyi dengan membayangkan wajah orang yang dicintainya itu. Sebuah senyuman perlahan muncul menghiasi bibirnya dan Woohyun kembali memfokuskan dirinya pada permainan pianonya yang sudah terdengar lebih baik. Jauh lebih baik. Ia tahu bahwa ia bisa bermain dengan baik karena ia akan memainkannya nanti untuk orang yang dicintainya.  

Seusai dentingan nada terakhir yang ia mainkan, Woohyun membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah belakang, ke arah sebuah boneka beruang besar nampak duduk di atas meja kecil yang biasa digunakan menjadi tempat bermain anak-anak disana. Boneka beruang besar tersebut tampak tersenyum seolah menyetujui permainan piano Woohyun.  

Laki-laki itu bangkit dari kursi piano dan mengangkat boneka beruang tersebut. Ia menatap boneka tersebut dan lalu mencium hidung boneka itu.  

“Aku harap aku akan membuatnya tersenyum juga dengan permainan pianoku dan juga dengan kehadiranmu. Kau akan menjadi satu-satunya saksi disana dan akan menjadi hadiahku untuknya juga..”  

*    

Sunggyu memasang lampu-lampu terakhir yang ia butuhkan dan kemudian ia bangkit berdiri. Ia menyalakan sakelar listrik yang terhubung dengan kabel-kabel lampu hias tersebut dan merasakan dirinya terkagum-kagum sendiri karenanya. Atap bangunan apartmentnya kini tidak lagi terlihat gersang dengan hanya lantai semen dan dinding besi yang catnya nampak terkelupas disana-sini akibat cuaca. Kini lampu-lampu yang tampak seperti taman bermain, meja piknik yang nampak baru, serta langit malam yang menaungi tempat itu membuat semuanya nampak sempurna.  

Sunggyu memanjat sebuah tangga kecil yang terletak di tengah atap dan duduk di atas tangga tersebut, ia memuaskan tatapannya dengan pemandangan akan kerja kerasnya itu. Sunggyu tersenyum dan kemudian merogoh kantung celananya untuk mengeluarkan ponselnya.  

Ia mengetik sebuah pesan dengan cepat dan kemudian mengirimkannya, ‘Aku sama sekali tidak sabar untuk memperlihatkan hal ini kepadanya. Aku harap ia akan menyukainya..’  

*    

Pada malam keesokan harinya, sesuai dengan rencana, Woohyun mengejutkan Sunggyu dengan kedatangannya dan membawa laki-laki yang tampak gugup itu bersamanya. Ia membawa Sunggyu menuju gudang basement gedung apartment mereka. Ia tahu bahwa Sunggyu merasa gugup dan berulang kali bertanya padanya, terutama karena Woohyun menyiapkan kejutannya dengan juga menutup kedua mata Sunggyu dengan sapu tangannya lalu mengarahkan langkah-langkah kaki laki-laki itu dengan ia menggenggam erat tangan laki-laki itu.  

“Duduk disini..” kata Woohyun dan mencium mata Sunggyu yang masih tertutup oleh sapu tangannya. Ia tidak bermaksud melepaskannya sekarang, ia akan melepaskannya nanti, dengan kejutan lainnya untuk Sunggyu, orang yang dicintainya itu.  

“W-Woohyun..” Sunggyu mendengar laki-laki itu bergerak di sekitarnya. Tapi kemudian ia mendengar laki-laki itu menenangkannya dengan suara rendah. Laki-laki itu memintanya untuk tenang dan relaks. Dan Sunggyu mencoba sebisanya untuk tenang. Ia tidak menyukai gelap dan ia sama sekali tidak mengerti kenapa Woohyun malah membawanya ke basement bawah yang gelap dan terasa lembab itu.  

Sunggyu merasakan tubuh Woohyun menjauh darinya dan ia merasakan serangan panik mulai merasuki dirinya lagi. Ia tidak suka dengan perbuatan Woohyun. Laki-laki itu tidak mungkin meninggalkannya sendirian disana, bukan?  

Akan tetapi indera pendengarannya menangkap suara-suara lainnya. Sunggyu menegakkan kepalanya, tahu bahwa Woohyun tidak meninggalkan dirinya sendirian disana. Suara dentingan-dentingan lembut terdengar, Sunggyu memproses suara itu di dalam otaknya dan memahami bahwa suara itu adalah suara piano. Laki-laki itu menelengkan kepalanya sedikit, Woohyun bermaksud bermain piano untuknya?  

Dan pertanyaan di benaknya itu kemudian terjawab ketika dentingan piano yang terdengar berubah menjadi alunan musik. Sunggyu mengetahui lagu yang dimainkan Woohyun. Lagu kesukaannya.  

Sunggyu membeku duduk di tempatnya dan hanya mendengarkan. Dan perlahan, ia mulai menangis, membasahi sapu tangan Woohyun yang masih terikat menutupi matanya.  

*    

Woohyun menyelesaikan permainan pianonya dan tersenyum perlahan. Suara dentingan piano yang terakhir masih seolah terasa bergema di ruangan basement tersebut. Dentingan yang juga terasa beresonansi di dalam hatinya, bagaimana ia mencurahkan perasaannya pada permainan pianonya tersebut. Dan ia berharap hal itu juga dirasakan sama oleh Sunggyu.  

Ia bangkit berdiri dari kursi pianonya dan berjalan mendekati figur Sunggyu yang duduk diam tak jauh darinya. Boneka beruang yang dibawanya menjadi hadiah pada Sunggyu nampak duduk diam di atas piano, menatap kedua sosok figur di basement disana dengan tatapan kosong dan sebuah senyuman tetap terulas menghiasi wajahnya.  

Woohyun berlutut di depan lutut Sunggyu dan menangkupkan telapak tangannya pada wajah laki-laki itu. Ia bisa merasakan air mata Sunggyu dan dengan jari-jemari yang sedikit bergetar, perlahan Woohyun membuka ikatan sapu tangannya yang menutupi wajah Sunggyu.  

“W-Woohyun..”  
“Aku tidak akan menyakitimu, aku mencintaimu.. Jangan menangis.. Aku mohon..”  
“W-Woohyun..”  
“Lihat, aku bahkan membawa hadiah untukmu. Aku juga menyiapkan sebuah kejutan lainnya untukmu. L-Lihat..” Woohyun berkata cepat dan mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil berselimutkan beludru halus berwarna biru pekat dan memperlihatkannya pada Sunggyu, “Aku akan memberikan apapun untukmu..”  

“W-Woohyun..”  
“Sunggyu, please..” gumam Woohyun dan meletakkan kepalanya di atas lutut Sunggyu, memohon pelan pada laki-laki itu.  
“Woohyun.. Lepaskan aku, aku mohon..” Sunggyu berbicara dengan suara berbisik sekarang.  

Woohyun mengangkat kepalanya dan menatap kedua mata Sunggyu. Ia tahu apa yang dimaksudkan oleh laki-laki itu. Bukan salah laki-laki itu apabila ia melihat rasa takut dan juga memohon di kedua mata Sunggyu. Ia yang memaksa Sunggyu untuk ikut dengannya sampai ke tempat ini, ia yang mengikat Sunggyu ke kursi agar laki-laki itu duduk diam dan mendengarkannya, ia yang menginginkan bahwa ia bisa memaksa Sunggyu untuk menjadi miliknya.  

“Kenapa aku harus melepaskanmu? Kau berada tepat di tempat dimana aku menginginkanmu..”  
“Woohyun.. Aku..”  
“Kau tidak menginginkannya, aku tahu..” potong Woohyun dan perlahan bangkit berdiri, tatapannya masih tidak lepas dari kedua mata Sunggyu yang juga mengikuti pergerakannya.  

Tapi Sunggyu yang mengikuti kedua mata Woohyun yang menatapnya tahu perubahan di dalam kedua mata itu. Perubahan yang terlalu cepat sehingga membuatnya dirinya khawatir dan juga..takut.  

Ia berusaha memanggil laki-laki itu, ia bermaksud untuk menenangkan laki-laki itu. Mungkin ia bisa mencobanya. Woohyun bukan laki-laki yang akan menyakitinya, bukan?  

Tapi Sunggyu tidak tahu akan sesuatu. Woohyun adalah seorang pria yang jatuh cinta. Dan ia jatuh terlalu dalam. Dan di dalam kedalaman perasaannya, membuatnya sama sekali tidak bisa melihat cahaya. Apabila ia tidak bisa meyakinkan Sunggyu untuk menjadi miliknya saat itu maka ia akan melakukan apa saja.  

Woohyun mendengar Sunggyu memanggil namanya lagi dan ia membencinya. Ia membenci suara Sunggyu yang terdengar menahan rasa takutnya dan berusaha tenang. Ia membenci laki-laki yang terikat di kursi di hadapannya itu yang tidak akan pernah menjadi miliknya.  

Dan hal setelah Sunggyu memanggil nama laki-laki yang berdiri di hadapannya itu, ia tidak mengira bahwa laki-laki itu akan memukulnya. Pukulan-pukulan terarah padanya, membuatnya hampir tidak bisa merasakan apa-apa. Sakit kepala yang intens menyerang kepalanya. Ia tidak bisa bernafas dengan benar dan lidahnya terasa seperti rasa besi. Darah.  

Namun kemudian Sunggyu merasakan berat tubuh seseorang di atas pangkuannya. Woohyun. Dan rasa besi di lidahnya terasa menyebar, ketika ia merasakan sesuatu di dalam mulutnya dan memaksanya untuk menelan air liur bercampur darahnya sendiri itu. Satu pemahaman lainnya. Woohyun tengah mencium paksa dirinya.  

Dan ia sama sekali tidak bisa melawan laki-laki itu. Ia tidak bisa memahami apapun. Kepalanya terasa begitu sakit dan berat. Seolah kepalanya memiliki pemikiran tersendiri untuk lepas dari tubuhnya.  

Ia merasakan rasa sakit lagi ketika beban di pangkuannya menghilang. Sunggyu merasakan rasa besi dan juga rasa asin di sudut bibirnya. Darah. Air mata. Ia berkali-kali merasakan hal yang setelahnya. Woohyun marah kepadanya dalam satu waktu tapi di satu waktu kemudian ia akan bersikap meminta maaf pada Sunggyu dan memperlakukan laki-laki itu dengan penuh cinta dan hati-hati seolah Sunggyu terbuat dari porselen.  

Namun Sunggyu tahu bahwa ia telah rusak sepenuhnya walaupun Woohyun menciumnya dan membisikkan kata-kata maaf dan kata-kata manis di telinganya. Rasa sakit itu membuatnya semakin merasakan kebas. Suara bisikan Woohyun perlahan terdengar semakin jauh. Sakit kepalanya masih membayanginya namun ketika ia berusaha membuka kedua matanya. Sunggyu melihat warna merah. Hanya warna merah. Darah. Amarah. Dan.. cinta, apabila Sunggyu bisa melihat lebih jelas namun ia menyerah. Ia tidak bisa menggapai hal itu. Sunggyu menutup kedua matanya dan melihat warna hitam.  

Dan Sunggyu sama sekali tidak ingin membuka kedua matanya lagi. Ia membiarkan warna hitam itu menelannya, membuat semua suara dan warna itu pun juga menghilang dalam benaknya.  

*    

Kim Sunggyu. Seorang pria yang jatuh cinta.  
Nam Woohyun. Juga seorang pria yang jatuh cinta.  
Namun keduanya tidak memiliki cinta yang sama. Woohyun mencintai Sunggyu hingga membawanya ke dalam keadaan yang tidak bisa membedakan cinta atau obsesi. Mungkin benar ia mencintai Sunggyu hingga membuatnya terobsesi akan laki-laki itu. Atau mungkin ia hanya terobsesi pada Sunggyu hingga membuatnya berpikir bahwa ia mencintai Sunggyu.  

Tidak ada yang tahu. Tapi keduanya adalah pria yang jatuh cinta. Dimana cinta yang dimaksudkan bisa membuat yang satu kehilangan akal sehatnya dan mampu melakukan apa saja karenanya.  

*    

Sementara itu..    

Di atas atap gedung apartment yang sama, seorang pria lainnya tengah duduk menunggu. Seorang pria yang jatuh cinta lainnya. Senyuman di wajahnya masih belum terhapuskan sementara ia melihat sekelilingnya. Melihat apa yang telah dilakukan oleh Sunggyu untuknya.  

Yongguk duduk di salah satu kursi piknik yang berada disana dan masih menunggu Sunggyu untuk muncul di hadapannya. Ia berulang kali melirik jam tangannya dan perlahan senyuman diwajahnya tergantikan oleh raut wajah khawatir. Tapi ia tetap menunggu disana.    

Bang Yongguk. Seorang pria yang jatuh cinta lainnya. Namun yang tidak diketahuinya adalah orang yang dicintainya itu tidak akan pernah bisa menepati janjinya untuk datang ke tempat itu. Bahkan orang yang dicintainya itu tidak akan pernah bisa dilihatnya lagi seberapa lama pun ia menunggunya.      

“You still don’t know – you can have my body but you can’t have my heart
Our love song ain’t got no soul, it’s so cold I give up,
I’m sorry, please understand me for not being able to say I love you”
— 니가 아니라서 (Missing You) – Teen Top    

FIN    

Note : Well, just found out that Man In Love’s lyrics can be double meaning. It can be sweet as the song can be heard. But if you look closer, it have some dark meaning. Posessive. And the quote from Teen Top’s song, it’s L.Joe’s rap. And the title itself, even the english title is Missing You but if you translate the Korean title it will be ‘Because It’s Not You’. Thankyou for reading. Have a good day~
ps : yeah,this ff contains banggyu in very undescriptioned words hahahaha~
PsII : this is my entry to a fanfiction contest that held by yaoinism blog.. and I got the second place~
PsIII : please forgive any awkward sentences in this story.. its already over a year I write a story._. THANKS FOR READING~
PsIV : comments always be welcomed~~ :)